Navigation


RSS : Articles / Comments


Penelitian Etnografi Komunikasi

6:22 PM, Posted by By Communicator 12, One Comment

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kehadiran dan keberartian orang-orang etnis tionghoa di tengah-tengah. masyarakat indonesia merupakan suatu kenyataan. Kehadiran ini sudah berlangsung dari sekian keturunan, sedangkan keberartiannya dapat diukur dari perlakuan masyarakat sekitar terhadap mereka. Perlakuan masyatakat sekitar ini termasuk masyarakat jawa akan sangat beragam mulai dari menyenangi mereka, bersikap acuh tak acuh, atau bahkan membencinya Masyarakat yang berasal dari etnis lain dalam perspektifnya memandang etnis tionghoa merupakan suatu sikap yang tidak menentu. Selain itu proporsi orang etnis tionghoaterhadap penduduk indonesia dilihat dari sensuspada tahun 1930 adalah berjumlah 1.233.214 yang merupakan 2 persen dari seluruh penduduk di indonesia. Bisa dikatakan bahwa semua orang tionghoa di indonesia merupakan imigran kelahiran tiongkok atau keturuann imigtan menurut garis laki-laki. Namun akibat dari perkawinan campuran dan asimilasi di beberapa daerah di indonesia akan susah dibedakan mana yang merupakan orang tionghoa dan mana yang bukan. Masyarakat tionghoa di indonesia di indonesia tumbuh dan berakar setempat dapat diklasifikasikan menurut besar-kecilnya pengatuh pribumi dalam kebudayaan campuran mereka. Suatu proses komunikasi di bagian dunia manapun, selalu mengikuti suatu alur atau kaidah tertentu, sehingga suatu masyarakat atau kelompok tersebut bisa mengatakan seseorang bisa diterima suatu komunitas atau masyarkat karena cara dia berperilaku dan berkomunikasi satu terhadao lainnya. Disini, studi yang ditekankan dalam etnografi komunikasi merupakan salah satu dari sekian studi penelitian kualitatif (paradigma interpretatif atau konstruktivis), yang mengkhususkan pada penemuan brbagai pola komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam masyarakat tutur. Etnografi komunikasi merupakan penerapan metode etnografis pada pola komunikasi sebuah kelompok. Menurut Hymes(1974), etnografi komunikasi sendiri merupakan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi. Cakupan kajian etnografi adalah misalnya hanya mengambil hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu menghubung-hubungkannya. Fokus hendaknya meneliti secara langsung terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan sebagainya. Dalam kaitan dengan landasan itu, seorang peneliti tidak dapat membentuk bahasa, atau bahkan tutur, sebagai kerangka acuan yang sempit. Peneliti harus mengambil konteks suatu komunitas (community), atau jaringan orang-orang, lalu meneliti kegiatan komunikasinya secara menyeluruh, sehingga tiap penggunaan saluran atau kode komunikasi selalu merupakan bagian dari khasanah komunitas yang diambil oleh para penutur ketika dibutuhkan. 1.2 Rumusan Masalah • Bagaimana pola interaksi seseorang terhadap keluarganya yang multi etnis Jawa-Cina? • Apa saja batasan-batasan perilaku seseorang terhadap keluarga multi etnis Jawa-Cina? • Bagaimana pola kekerabatan multi-etnis Jawa-Cina terhadap sanak keluarganya? • Apa penyebab terjadinya konflik pada pernikahan multi-etnis Jawa-Cina? Dan bagaimana menyelesaikannya? • Bagaimana prejudice etnis Cina terhadap Jawa dan sebaliknya? 1.3 Tujuan dan manfaat penelitian • Menghindari konflik yang terjadi pada pernikahan multi-etnis • Mengetahui pola interaksi keluarga multi-etnis Jawa-Cina dalam kehidupan sehari-hari • Mengetahui jalan tengah antara dua budaya yang berbeda dalam pelaksanaannya sehari-hari • Mengetahui cara menyelesaikan prejudice yang ada pada masing-masing pelaku perkawinan multi-etnis Jawa-Cina   BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan teori Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian.Semula etnografi komunikasi (etnography of communication) disebut etnografi wicara atau etnografi pertuturan (ethnograpliy of speaking). Kalau etnografi itu dipandang sebagai kajian yang memerikan suatu masyarakat atau etnik, model pemerian etnografi itu bisa diterapkan dan difokuskan kepada bahasa masyarakat atau kelompokmasyarakat tertentu. Karena sosiolinguistik itu lebih banyak mengungkapkan pemakaian bahasa, dan bukan ihwal struktur bahasa, maka etnografi tentang bahasa difokuskan kepada pemakaian bahasa dalam pertuturan atau lebih luas lagi komunikasi yang menggunakan bahasa. James P. Spradley mengemukakan bahwa etnografi merupakan pekerjaaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Adapun tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Pandangan Spradley ini berdasarkan pendapat Bronislaw Malinowski yang memandang bahwa tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Mengacu pada pemahaman itu, Spradley kemudian mengatakan bahwa etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, akan tetapi lebih jauh lagi yakni etnografi juga belajar dari masyarakat. Lebih jauh, Spradley mengungkapkan bahwa makna-makna yang bisa diamati oleh peneliti etnografi terbagi kedalam dua wilayah yakni makna yang terekspresikan dan makna disembunyikan. Makna yang terekspresikan secara langsung dapat diamati lewat bahasa, sedangkan yang tersembunyi bisa diamati melalui kata-kata secara tidak langsung dan juga melalui perilaku dari sumber yang diamati. Dalam pengertiannya, Metode Etnografi menurut Suwardi Endaswara merupakan penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Artinya, dalam penelitan ini peran peneliti hanya sebagai pencatat dan atau pengamat dari sebuah peristiwa yang berlangsung tanpa campur tangan peneliti untuk mengarahkan peristiwa tersebut. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985). Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, etnografi merupakan embrio dari antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi juga merupakan hasil catatan penjelajah eropa tatkala mencari rempah-rempah ke Indonesia. Koentjaraningrat, 1989:1 : “Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adapt istiastiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut”. 2.2 Langkah-langkah umum dalam siklus penelitian etnografi terdiri dari : 1) Memilih proyek etnografi 2) Membuat pertanyaan etnografis 3) Mengumpulkan data etnografis 4) Membuat catatan etnografis 5) Menganalisis data etnografis 6) Menulis laporan etnografis 7) Menetapkan situasi sosial 2.3 Ruang lingkup dan fokus kajian Etnografi Komunikasi Menurut Hymes, ruang lingkup kajian etnografi komunikasi sebagai berikut: 1. Pola dan fungsi komunikasi 2. Hakikat dan definisi masyarakat tutur (speech comunity) 3. Cara-cara berkomunikasi 4. Komponen-komponen kompetensi komunikatif 5. Hubungan bahasa dengan pandangan dunia dan organisasi sosial 6. Semesta dan ketidaksamaan linguistik dan sosial Pada etnografi komunikasi, yang menjadi fokus perhatian adalah perilaku komunikasi dalam tema kebudayaan tertentu, jadi bukan keseluruhan perilaku seperti dalam etnografi. Adapun yang dimaksud dengan perilaku komunikasi menurut ilmu komunikasi adalah tindakan atau kegiatan seseorang, kelompok atau khalayak, ketika terlibat dalam proses komunikasi. 2.4 Signifikansi Etnografi Komunikasi Etnografi komunikasi memfokuskan kajiannya pada perilaku-perilaku komunikasi yang melibatkan bahasa dan budaya. Sehingga etnografi komunikasi tidak hanya akan menyorot fonologi dan gramatika bahasa, melainkan struktur sosial yang mempengaruhi bahasa, dan kebudayaan dalam kosakata bahasa. Etnografi komunikasi menggabungkan antropologi, linguistik, komunikasi, dan sosiologi dalam suatu frame yang sama, sehingga deskripsi etnografi komunikasi memberikan sumbangan pemahaman bagi ilmu lain. Singkatnya, etnografi komunikasi melihat perilaku komunikasi dalam konteks sosiokultural. Mencoba menemukan hubungan antara bahasa, komunikasi, dan konteks kebudayaan dimana peristiwa komunikasi itu berlangsung. Semua itu menjadikan etnografi komunikasi sebagai multi studi dalam ilmu sosial.   2.5 Keluarga Definisi Keluarga: keluarga adalah kelompok sosial utama, sebuah komunitas kecil, di masyarakat mana pun, biasanya terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, atau dua individu yang ingin berbagi hidup mereka bersama-sama dalam jangka panjang melakukan hubungan satu sama lain , keturunan membesarkan dan biasanya berada di tempat tinggal yang sama. Family is the main building block of a community; family structure and upbringing determines the social character and personality of any given society. Keluarga adalah blok bangunan utama masyarakat; struktur keluarga dan pendidikan menentukan karakter sosial dan kepribadian dari setiap masyarakat tertentu. - Family is where we all learn: love, caring, compassion, ethics, honesty, fairness, common sense, reason, peaceful conflict resolution and respect for ourselves and others, which are the vital fundamental skills, and family values, necessary to live an honorable and prospers life in harmony, in the world community. - Keluarga adalah tempat kita semua belajar: cinta, kepedulian, kasih sayang, etika, kejujuran, keadilan, akal sehat, alasan, resolusi konflik yang damai dan menghormati diri sendiri dan orang lain, yang merupakan keterampilan dasar yang vital, dan nilai-nilai keluarga, diperlukan untuk menjalani terhormat dan hidup berhasil dalam harmoni, di masyarakat dunia. Definisi Nilai: Nilai adalah prinsip, standar, atau kualitas dianggap bermanfaat atau diperlukan untuk mempertahankan seperangkat standar adat, seperti yang saya sebutkan di atas. Definisi Family Values: Untuk memiliki rasa Family Values adalah untuk memiliki pikiran yang baik, niat baik dan perbuatan baik, untuk mengasihi serta peduli kepada orang-orang yang dekat dengan kita dan merupakan bagian dari kelompok utama sosial kita, masyarakat kita, seperti anak-anak, orang tua, anggota keluarga lain dan teman-teman. And to treat others with the same set of values, the same way we wish to be treated. Dan untuk memperlakukan orang lain dengan kumpulan nilai yang sama, dengan cara yang sama kita ingin diperlakukan. BAB 3 METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif studi etnografi komunikasi, karena metode ini dapat menggambarkan, menjelaskan, dan membangun hubungan dari data-data yang ditemukan secara mendalam pada satu objek. Sesuai dengan dasar pemikiran etnografi komunikasi, tidak hanya perilaku komunikasi saja yang menjadi titik berat dari penelitian, tingkah laku sehari-hari juga menjadi kajian dalam penelitian ini, etnis Cina memiliki kebudayaan sendiri, dan begitu juga etnis Jawa, terkadang salah satu hal dalam kebudayaan kedua etnis ini bertentangan, maka dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam kepada responden.   BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Studi keluarga multi etnis jawa - cina Kami memutuskan untuk meneliti seorang wanita multi etnis, yaitu etnis cina-jawa. Yaitu Astrid Widhiasih, gadis yang kami teliti merupakan seseorang yang mempunyai ibu dari etnis jawa tulen, ayahnya berasal dari cina peranakan, kakek dari ayah Astrid termasuk etnis Cina Totok. Perilaku komunikasi setiap hari menggunakan bahasa jawa, dan terkadang bahasa Indonesia, karena ayahnya bisa bahasa jawa, dan ibunya juga berbahasa jawa. Mereka tinggal di Jember, Jawa Timur. Sejak SMA, Astrid bersekolah di Malang, “perilaku komunikasi kami tidak ada yang spesial, biasa saja” jawabnya ketika diberi pertanyaan : “bagaimana perilaku komunikasi keluarga kalian?”, mungkin pertanyaan ini terlalu umum, sehingga ia hanya menjawab demikian, tetapi setelah ditanya lebih dalam, barulah terbuka. Dimulai dari pertanyaan : “agama orang tua anda beragama apa?”,”bagaimana menyikapi perbedaan budaya seperti idul fitri dan imlek?”. Ternyata kedua orang tua Astrid beragama islam, namun daya toleransi mereka lebih tinggi dari pada muslim pada umumnya, contohnya ketika hari raya Imlek, mereka tidak merayakan dengan pergi ke kuil, tapi tetap mengikuti budaya pada hari imlek, yaitu “bagi bagi angpao”, mungkin hal ini dianggap sedekah pada even spesial seperti ini. Adat istiadat merekapun lebih hati-hati daripada orang jawa, mereka sangat menghindari mandi ketika matahari sudah terbenam, adat ini juga ada di Jawa, namun sepertinya mereka (keluarga astrid) lebih mengindahkan daripada orang jawa pada umumnya, namun ketika ditanya alasannya, Astrid menjawab bahwa hal itu Pamali. Tidak ada alasan yang logis dari mitos ini, tapi yang jelas, mereka mempercayai sesuatu dibelakang adat mereka ini. Ketika diberikan pertanyaan “Mengapa bisa ayahmu dari etnis Cina menikah dengan Ibumu yang domisili di Jawa, (Jember)?”. Astrid pun memberikan sejarah bertemunya kedua orang tuanya, diawali dari perkenalan di Bus yang menuju Jember, ayahnya sedang mengecek usaha yang ada di Jember, -sebagaimana kita ketahui, di Indonesia orang Cina lebih banyak menjadi wiraswasta daripada bekerja dipabrik,- dan kebetulan ibunya duduk di sebelah ayahnya. Ayahnya bertanya: “mau kemana?”, “ke Jember”, “Oh, sama, dimana rumahnya?” ibunya pun menjawab nama kecamatan saja, tetapi ayahnya terus bertanya detail alamat ibunya, ibupun menjawab dengan detail tanpa perasaan apa-apa, ia hanya anggap ini pertemuan biasa tanpa ada keseriusan. Namun selang satu hari dari pertemuan itu, Ibu dikejutkan oleh kedatangan ayah, tidak disangka-sangka si ayah benar-benar niat untuk menemuinya, yang lebih mengejutkan lagi, setelah bertanya tentang status, si Ayah langsung mengajak Ibunya menikah, dan orang tuapun setuju, menikahlah mereka berdua tidak lama setelah itu, dan bertempat tinggal di Jember. Selama wawancara, Astrid tidak menyampaikan satupun konflik yang disebabkan oleh perbedaan etnis, seolah-olah keluarganya damai, tanpa pertengkaran. Tetapi memang benar, tidak ada perselisihan yang menyebabkan masalah hingga serius, mungkin karena kesamaan keyakinan mereka, Muslim, dan kesamaan adat jawa mereka, serta tentunya, saling toleransi antara satu dan lain dalam perbedaan. Kedua orang tua Astrid memperlakukannya dengan berdasar atas kebudayaan dasar mereka masing-masing, namun selama ini, perlakuan tersebut tidak ada yang menimbulkan konflik yang signifikan, contohnya, pada hari Imlek, ayah Astrid menjalankan budaya "bagi-bagi angpao", tetapi karena ayahnya beragama muslim, ia tidak pergi ke kelenteng untuk sembahyang. Dan pada hari raya Islam, idul fitri, Ibu Astrid mengajaknya bersilaturrahmi ke sanak saudara dan kerabat dekat untuk saling bercengkrama dan tegur sapa, Ayah pun mengiringi mereka selama silaturrahmi. Terdapat beberapa unsur struktur kekerabatan kaum cina peranakan, seperti Astrid, yaitu mulai meninggalkan ciri-ciri patrilokal, patrilineal, dan patriarkal, yang sebenarnya merupakan dasar sistem tradisional Hokkian yang pada umumnya masih merupakan ciri khas yang berlaku dikalangan kaum Hokkian dewasa ini. 4.2 Perkawinan etnis jawa-cina Menghadapi persoalan perkawinan multietnis, dalam konteks etnografi komunikasi, stereotip dapat mempengaruhi penilaian keluarga besar terhadap seseorang yang akan dijadikan pendamping hidup. Begitu kuatnya hubungan kekeluargaan dalam etnis Cina, sehingga pendapat keluarga selalu dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Diperlukan komitmen luar biasa oleh pasangan perkawinan multi etnis, sehingga segala bentuk kesalahpahaman dapat lebih mudah teratasi. Termasuk ketika masing-masing pihak melakukan penyesuaian agar perkawinan dapat terjadi dan mendapat lampu hijau dari keluarga besar. Dari upaya ini kemudian dapat ditemukan kesamaan dari etnis Jawa dan etnis Cina. Persoalan kedua adalah latar belakang personal atau individu pelaku perkawinan multi etnis. Mayoritas pasangan yang memutuskan melakukan perkawinan multi etnis harus memiliki pola pikir terbuka terhadap budaya yang dibawa oleh pasangannya, termasuk kepercayaan, nilai dan norma. Jika kedua pihak tidak memiliki pola pikir terbuka, akan terjadi pemaksaan kehendak untuk mempraktikkan kepercayaan, nilai dan norma yang dianut oleh pasangannya, sehingga kemungkinan langgengnya sebuah perkawinan ibarat jauh panggangan dari api. Pada akhirnya nilai sosial dan nilai budaya keluarga perkawinan multi etnis akan sangat tampak ketika masuk dalam konteks penyelesaian persoalan dan konflik. Setiap pasangan berusaha mengambil keputusan dalam pemecahan masalah tidak berlandaskan keputusan emosional pribadi berlatar budaya, melainkan keputusan rasional yang dapat digunakan sebagai jalan keluar. Pada keluarga responden yang kami teliti, diketahui bahwa anak perempuan juga mendapat warisan seperti anak laki-laki, sedangkan khusus dalam hal warisan harta kekayaan, yang berupa barang-barang tidak bergerak, orang-orang cina peranakan cenderung untuk tinggal ditempat kediaman sesudah menikah. Hubungan sosial dengan kerabat ibu, pada umumnya sering berkomunikasi dan seakrab hubungan dengan kerabat dari ayah. 4.3 Prejudice antara etnis Jawa-Cina Prejudice yang ada pada Astrid sebagai Cina peranakan yang memiliki keturunan Cina dan Jawa sering terungkap ketika dia berinteraksi dengan sanak keluarganya yang etnis Jawa, sebagian besar etnis Jawa memiliki perasaan rendah diri, hal ini dikarenakan selama berabad-abad orang pribumi (Jawa) tidak bisa lebih unggul dibanding orang-orang Tionghoa dimasa penjajahan, baik dalam status hukum maupun kekuatan ekonominya, selain itu, hampir setiap kontak antar dua bangsa tersebut mencerminkan bahwa kedudukan orang Tionghoa selalu lebih tinggi daripada orang Indonesia asli, dalam hubungan itu, kesombongan orang Tionghoa karena sadar akan keadaan.   BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN • Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi merupakan hasil catatan penjelajah eropa Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adat istitiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut. Jadi layaknya seperti penelitian yang lain, variabel dari penelitian ini lebih kepada kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat. • Penelitian etnografi juga merupakan kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian. • Dalam perkawinan etnis Jawa-Cina, dibutuhkan toleransi dan pemahaman atas kedua kebudayaan yang berbeda, selama ini dalam perkawinan etnis Jawa-Cina tidak terjadi konflik yang begitu signifikan, selama mereka memiliki keyakinan (agama) yang sama. • Prejudice yang tidak terbukti keabsahannya juga harus dihindari, jika memang sulit untuk tidak mempercayainya, maka harus diyakinkan betul kebenarannya, jika tidak, konflik akan terjadi. • Pasangan perkawinan multi-etnis Jawa-Cina harus mendasarkan rasional sebagai jalan keluar mereka ketika terjadi konflik karena perbedaan budaya, memecahkan masalah dengan meyakinkan pihak lain tentang kebenaran budayanya tidaklah banyak membantu dalam meredam konflik, namun usaha untuk memahami budaya pihak lainlah yang sangat membantu dalam mencari jalan tengah perbedaan budaya kedua etnis.   DAFTAR PUSTAKA Kuswarno, Engkus. 2008. Metode penelitian komunikasi, etnografi komunikasi suatu pengantar dan contoh penelitiannya.Bandung ;Widya padjajaran. Mulyana, deddy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. remaja rosdakarya. Sutyadinata, Leo. 1998. Etnis tionghoa dan pembangunan bangsa. Tan, melly. 1981. Golongan etnis tionghoa di indonesia. Jakarta : PT. Gramedia.  

Karakteristik pesan

3:03 AM, Posted by By Communicator 12, No Comment

KARAKTERISTIK PESAN 1. Pesan dikemas dalam konteks tertentu. Artinya, kita memproduksi pesan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu dimana kita menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada dengan pesan yang akan kita produksi. Contoh: ketika kita berada pada suatu kumpulan formal, seperti sebuah seminar, kita akan memposisikan diri sebagai orang yang berpartisipasi dan berskill sesuai dengan hadirin, maka pesan yang kita berikan, baik verbal maupun non-verbal, akan kita sesuaikan dengan lingkungan kita, yaitu mengenakan pakaian yang rapi, dan berbahasa yang resmi dan sopan ketika berbicara didepan forum. Beda halnya jika kita berkumpul dengan teman sebaya, misal: nongkrong. Maka, tidaklah mungkin kita menggunakan bahasa resmi seperti pada seminar tadi. Hal ini kita lakukan agar lingkungan bisa menerima kita. 2. Pesan Dibangun diatas beragam aturan. Artinya, pesan yang kita bangun berdiri atas peraturan yang berlaku, sebagaimana kita berada dalam suatu sistem sosial yang terstruktur, hal ini sesuai dengan salah satu prinsip komunikasi, yaitu: komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi. Contoh: dalam keluarga, madura misalnya, terutama pada daerah Sumenep, dianjurkan bahwa seorang anak jika berbicara dengan orang tua, atau saudara yang lebih tua, menggunakan bahasa madura yang halus, aturan ini berdiri sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat Sumenep tersebut. Jadi pesan yang kita produksi, harus sesuai dengan peraturan yang berlaku didalam lingkungan kita. 3. Pesan bermakna berbeda berdasar kesan yang diberikan. Artinya, satu pesan dapat memiliki makna yang berbeda pada setiap orang yang memaknai, hal ini dipengaruhi oleh kesan komunikan terhadap pesan itu. Contoh: kata “djancok, jika diucapkan pada situasi tertentu, misal kepada teman akrab kita, maka hal ini dimaknai sebagai simbol keakraban, tetapi, jika diucapkan pada orang yang baru kenal, atau bukan teman akrab kita, maka pesan ini akan dimaknai sebagai pelecehan dan hinaan terhadap komunikan. Contoh lain yaitu: kata-kata “I LUV U”, jika disampaikan oleh seorang mahasiswi ke dosennya, maka pesan ini akan dimaknai sebagai perhatian dan respect mahasiswi itu terhadap dosen, namun, jika ia ungkapkan kepada teman yang suka dengannya, maka pesan ini dimaknai berbeda, dengan arti yang lebih mendalam. 4. Pesan beragam tingkat kesopanannya. Artinya, pesan yang kita produksi memiliki tingkat kesopanan tertentu. Nilai kesopanan terbentuk dari proses sehari-hari dalam lingkungan tertentu. Kesopanan juga melibatkan etika. Contoh: pesan pada tingkat kesopanan yang rendah yaitu: kata-kata hinaan yang dilontarkan seseorang pada orang lain. Dan contoh pesan pada tingkat kesopanan tinggi yaitu: bahasa “Kromo Inggil” yang diucapkan orang jawa terhadap orang yang lebih tua. Jadi, tingkat kesopanan bergantung pada lingkungan tertentu. 5. Pesan berupa pesan langsung dan tidak langsung (sindiran). Pesan memiliki tingkat Langsung-tidak langsung yang berbeda. Pesan Langsung berarti, pesan yang disampaikan dengan bahasa yang lugas, sedangkan pesan yang berupa pesan tidak langsung yaitu sindiran. Masing-masing tipe memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Keuntungan sindiran yaitu: tidak menyakiti perasaan, kerugiannya: pesan tidak tersampaikan dan termaknai sesuai keinginan komunikator. Contoh: ketika kita menyindir orang yang memiliki hutang pada kita, dan kita membutuhkan uang itu, kita memberinya pesan tidak langsung : ”duh, tanggal tua nih, mesti hari gini uang seret..” jika komunikan memiliki perasaan peka, maka pesan yang kita sampaikan akan termaknai dengan baik, namun, kemungkinan lain yaitu, jika pesan yang disampaikan tadi tidak dimengerti oleh komunikan, maka sindiran yang kita berikan adalah sia-sia. 6. Pesan yang dikeluarkan seseorang mencerminkan dirinya. Sebagaimana Hadist Nabi: “ perkataan mencerminkan kepribadian”. Hal ini jelas, karena kata-kata seseorang mencerminkan apa yang ia pikirkan, dan pikiran itu adalah kepribadian seseorang. Seorang kiai selalu memproduksi pesan yang memiliki makna dan hikmah, serta manfaat bagi pendengarnya, karena sesuai dengan falsafahnya: Khoirunnaasi anfa’uhum linnaas. Jadi ia akan selalu berusaha memproduksi pesan yang bermanfaat. Begitu pula seorang pencuri, hal yang ia pikirkan adalah dimana dan kapan ada kesempatan untuk melakukan aksi, maka ia akan selalu mencari informasi dan berkomunikasi sesuai dengan keinginannya, yaitu mendapat informasi kesempatan untuk beraksi. 7. Pesan berupa pesan tegas dan tidak tegas. Pesan tegas yaitu pesan yang diberikan dengan kata kata lugas, dan sebisa mungkin dipahami oleh setiap orang. Pesan tegas diberikan untuk memberi pernyataan dan menghindari misinterpretatif dari komunikan. Pesan tidak tegas disampaikan kepada orang yang kita hormati, atau kita memiliki rasa tidak nyaman jika bicara “blak-blakan” kepada orang tersebut. Contoh pesan yang tegas: “ saya pecat kamu, karena sudah 1 minggu tidak masuk tanpa keterangan yang jelas”. Ujar seorang manager terhadap karyawan barunya. Dan contoh pesan tidak tegas adalah: senyuman seorang gadis terhadap pinangan seorang bujangan yang berarti adalah kata:”ya”. Contoh lain yaitu muramnya seorang adik kepada kakak karena tidak memberikan keinginan yang ia pinta kepada kakak, ini mengandung pesan: “kakak pelit”.

Kelompok Sosial

5:11 PM, Posted by By Communicator 12, One Comment

Kelompok adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama. Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial agara ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada. kelompok sosial dapat dibagi menjadi beberapa, antara lain: 1. Kelompok Primer Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homan kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang acapkali berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain. 2. Kelompok Sekunder Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektiv. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain. 3. Kelompok Formal Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART. 4. Kelompok Informal Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati Misalnya: kelompok arisan, ........................................ dinamakan kelompok sosial bila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Memiliki motive yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama) 2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (Akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat) 3. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing 4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama. B. Pertumbuhan dan Perkembangan Kelompok Indikator yang dijadikan pedoman untuk mengukur tingkat perkembangan kelompok adalah sebagai berikut: 1. Adaptasi Proses adaptasi berjalan dengan baik bila: a) Setiap individu terbuka untuk memberi dan menerima informasi yang baru b) Setiap kelompok selalu terbuka untuk menerima peran baru sesuai dengan dinamika kelompok tersebut. c) Setiap anggota memiliki kelenturan untuk menerima ide, pandangan, norma dan kepercayaan anggota lain tanpa merasa integritasnya terganggu. 2. Pencapaian tujuan Dalam hal ini setiap anggota mampu untuk: a) menunda kepuasan dan melepaskan ikatan dalam rangka mencapai tujuan bersama b) membina dan memperluas pola c) terlibat secara emosional untuk mengungkapkan pengalaman, pengetahuan dan kemampuannya. Selain hal diatas, perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi yang terjadi dalam kelompok. Dengan demikian perkembangan kelompok dapat dibagi menjadi tiga tahap, antara lain 1. Tahap pra afiliasi Merupakan tahap permulaan, diawali dengan adanya perkenalan semua individu akan saling mengenal satu sama lain. Kemudian hubungan berkembang menjadi kelompok yang sangat akrab dengan saling mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota. 2. Tahap fungsional Ditandai dengan adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain, tercipta homogenitas, kecocokan, dan kekompakan dalam kelompok. Pada akhirnya akan terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok. 3. Tahap disolusi Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelopok sudah mempunyai rasa tidak membutuhkan lagi dalam kelompok. Tidak ada kekompakan maupun keharmonisan yang akhirnya diikuti dengan pembubaran kelompok Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam: * Kelompok statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan. * Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya. * Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat. * Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah. Ciri kelompok sosial: 1.Terdapat dorongan atau motif yang sama antar individu satu dengan yang lain 2.Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu satu dengan yang lain berdasarkan rasa dan kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat di dalamnya. 3.Adanya penegasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan-peranan dan kedudukan masing-masing 4.Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan yang ada. 5.Berlangsungnya suatu kepentingan 6.Adanya pergerakan yang dinamik 2. Ciri-ciri Kelompok Sosial Ciri-ciri kelompok sosial tersebut adalah sebagai berikut : a. Merupakan kesatuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kelompok atau kesatuan manusia yang lain. b. Memiliki struktur sosial c. Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya. d. Memiliki faktor pengikat. e. Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya. Maka kelompok sosial dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu kelompok sosial kecil dan kelompok sosial besar. Kelompok sosial 1.Individu sebagai makhluk sosial tidak bisa dihindarkan dengan interaksi sosial dan bentuk-bentuk interaksi sosial 2.Situasi yang dihadapi individu terbagi menjadi dua macam, yaitu: a. Situasi kebersamaan b. Situasi kelompok social Macam kelompok sosial Charles H. Cooley membagi menjadi: 1. Kelompok primer (primary group) 2. Kelompok sekunder (secondary group) Moreno membagi menjadi: 1. Psikhe group 2. Socio group Crèch dan Curtchfield membagi menjadi: 1. Kelompok stabil 2. Kelompok tidak stabil French membagi menjadi: 1. Kelompok terorganisir 2. Kelompok tidak terorganisir Berdasarkan tingkat keformalan kelompok dibagi menjadi: 1. Kelompok formal/kelompok resmi 2. Kelompok informal Syarat kelompok menurut Baron dan Byrne: 1.Interaksi, anggota-anggota seharusnya berinteraksi satu sama lain 2.Interdependen, apa yang terjadi pada seorang anggota akan mempengaruhi perilaku anggota yang lain 3.Stabil, hubungan paling tidak ada lamanya waktu yang berarti (bisa minggu, bulan dan tahun) 4.Tujuan yang dibagi, beberapa tujuan bersifat umum bagi semua anggota 5.Struktur, fungsi tiap anggota harus memiliki beberapa macam struktur sehingga mereka memiliki set peran 6.Persepsi, anggota harus merasakan diri mereka sebagai bagian dari kelompokss Kelompok Sosial A. Definisi dan Ciri-Ciri Kelompok Sosial 1. Definisi Kelompok Sosial Kelompok sosial mengandung pengertian suatu kumpulan dari individu-individu yang saling berinteraksi sehingga menumbuhkan perasaan bersama. Berikut ini adalah engertian kelompok sosial dari beberapa ahli. a. Menurut Soerjono Soekanto, kelompo adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi. b. Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, istilah kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi. c. Menurut George Homans, kelompok adalah kumpulan individdu yang melakukan kegiatan, interaksi dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan berhubungan secara timbal balik. Menurut Soerjono Soekanto, suatu himpunan manusia dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi persyaratan berikut ini : a. Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa dia bagian dari kelompok tersebut. b. Memiliki struktur sosial sehingga kelangsungan hidup kelompok tergantung pada kesungguhan para anggotanya dalam melaksanakan perannya. c. Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya. d. Memiliki kepentingan bersama. e. Adanya interaksi dan komunikasi diantara anggotanya. B. Proses Pembentukan Kelompok Sosial 1. Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial a. Dorongan untuk mempertahankan hidup b. Dorongan untuk meneruskan keturunan c. Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja 2. Dasar Pembentukan Kelompok Sosial a. Kesatuan Genealogis atau Faktor Keturunan b. Kesatuan Religius c. Kesatuan Teritorial (Community) d. Kesatuan Kepentingan (Asosiasi) C. Klasifikasi Kelompok Sosial 1. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Solidaritas Antara anggota Istilah ini dipopulerkan oleh seorang sosiolog yang bernama Emile Durkheim. a. Solidaritas Mekanik Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belujm mengenal adanya pembagian kerja diantara para anggota kelompok. b. Solidaritas Organik Solidaritas organik adalah solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleks dan telah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga disatukan oleh saling ketergantungan antaranggota. 2. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan dalam Kelompok. Klasifikasi ini diperkenalkan oleh Ferdinand Tonnies a. Gemeinschaft (Paguyuban) Gemeinschaft adalah kelompok sosial yang memiliki ikatan erat dan intim. b. Gesellschaft (Patembayan) Gesellschaft adalah kehidupan publik yang bersifat sementara dan semu. 3. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Indentifikasi Diri a. In-Group b. Out-Group 4. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Hubungan diantara Para Anggotanya. a. Kelompok Primer Kelompok Primer adalah kelompok sosial yang memiliki hubungan saling mengenal dan memiliki perasaan kebersamaan. b. Kelompok Sekunder Kelompok Sekunder adalah kelompok sosial yang terbentuk karena adanya kepentingan yang sama sehingga kerjasama didasarkan pada hitungan untung rugi. 5. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Sistem Hubungan a. Kelompok Formal Kelompok Formal adalah kelompok yang memiliki sistem hubungan yang sengaja diciptakan, sehingga unsur-unsur dalam suatu organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan. b. Kelompok Informal Kelompok informal adalah kelmpok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim.

Bussiness Communication

5:09 PM, Posted by By Communicator 12, No Comment

Basic Concepts: Definite objective - one of the principal differences between casual conversation and business communication. Business communication includes all communication that occurs in a business context The Definition-Business Communication is sending and receiving messages activities within an organization – between two individuals, within a group of people, or one up to some areas that affect organization’s behaviors. Evolving Definition: Foundations Linguistics (the study of language) Semantics (the branch of linguistics most concerned with meaning) Rhetoric (the art of using words in speech or writing effectively) Psychology (the study of mental processes and behavior) Sociology (the study of social relations and societal change) Graphic design (the use of visual images and typography to create special effects) Management (the study of controlling and directing operations and personnel) Marketing (the study of moving goods and services from producer to consumer, including everything from advertising, to packaging, to sales) Economics (the study of the production, distribution, and consumption of wealth) Information technology (the study of the ways in which technology can be used to create, locate, store, retrieve, and transmit information). Related Disciplines Managerial Communication Organizational Communication Human Relations and Team Building Sales Communication Report Writing Communication Technology and Electronic Communication International Communication Rationales The Cost of Poor Communication (undesired result, misunderstanding) The Benefits of Improving Your Communication Skills Increased confidence Increased efficiency Increased effectiveness Better professional and personal relationships Rationales cont’d Changing internal environment: Employees needs and behaviors Business activities’ complexity Increased information and data flow Changing external environment: Competition Regulation Consumers demand Increased information and data flow 7’c Principles in Business Communication Completeness (complete information gives trustworthiness) Conciseness Concreteness (not abstract) Consideration (receivers’ situation-condition) Clarity Courtesy (behave) Correctness (consider communicant ability) Variables Source Message Context Channel Receiver Effect Source Credibility Attractiveness Power Homophily Sources of Credibility Attractiveness: Similarity (kesamaan pandang komunikator dengan komunikan) Familiarity (komunikator dikenal baik oleh komunikan) Liking (komunikator disukai oleh komunikan) Physic (menarik secara fisik) Message: Depends on the objectives of the communication strategy: Sending information Persuasive Getting a partnership Context Includes: Physical (e.g. Space, Real objects) Socio- psychology (e.g. S/R status, roles) Time (e.g. series of events, communication moment) The context then affect the formality of business communication process, e.g. in the formal meeting the space, the status and roles of S/R and the time would be different to family dinner. Channel: The principal communication channels are: Nonverbal Oral Written Electronic Non-verbal: Space Between people (proxemics) Allocated to people (territory) Time Amount (duration and frequency) Kind (exclusive or shared) Wait (who waits for whom and how long) Kinesics Open postures and signals (inviting communication) Closed postures and signals (discouraging communication) Appearance Conforming (matches others in dress and appearance) Nonconforming (mismatches others in dress and appearance) Oral Communication: Advantages: Its immediacy- to discuss, to receive immediate feedback, to change their views or messages accordingly, to evaluate the nonverbal message and to use that information to judge the credibility of the verbal message. Disadvantages: more difficult to store and retrieve than those in writing, takes more time to communicate an idea, as speakers are imprecise in the way they say things, People tend to hear what they want to hear. Written Communication: Advantages: across the barriers of time and space, a relatively permanent record, more time to prepare, easy to store, retrieve, and transmit. Disadvantages: much slower channel of communication than either the nonverbal or oral channel-clarity is much more important. The psychological impact of a written message requires careful consideration. Electronic Communication: The advantages of synchronous communication are based on the immediacy of feedback. The principal disadvantage of synchronous communication is the need to have sender and receiver present at the same time. This is especially true when the people involved are from different time zones. The advantages of asynchronous communication are that messages can be sent and received when convenient for sender and receiver. It also provides permanent record of the communication. The principal disadvantage of asynchronous communication is that feedback is delayed and may be difficult to obtain. Receiver: To whom the business communication refer to: Employee Employer Customers Regulation institution Supplier Colleagues Effect: Related to the objectives of communication strategy The objectives can be: Sending information (cognitive) Persuasive (affective) Getting a partnership (psychomotoric)

Interaksi Simbolik

5:06 PM, Posted by By Communicator 12, No Comment

Teori ini menyatakan bahwa Interaksi sosial pada hakekatnya adalah Interaksi simbolik. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol, yang lain memberi makna atas simbol tersebut. George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959). Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut. Asumsi-asumsi: 1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi melalui tindakan bersama dan membentuk organisasi. 2.Interaksi simbolik mencangkup pernafsiran tindakan. Interaksi non simbolik hanyalah mencangkup stimulus respon yang sederhana. kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol, ( D.Mulyana, 2001: 70) bagaimana cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang akan mereka sampaikan dalam proses komunikasi dengan sesama. Penggunaan simbol yang dapat menunjukkan sebuah makna tertentu, bukanlah sebuah proses yang interpretasi yang diadakan melalui sebuah persetujuan resmi, melainkan hasil dari proses interaksi sosial. Makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan dalam penggunaan bahasa. Negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu menamai segala sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan atau peristiwa ( bahkan tanpa kehadiran objek fisik, tindakan atau peristiwa itu).(Arnold M Rose 1974:143 dalam D.Mulyana 2001:72). Terbentuknya makna dari sebuah simbol tak lepas karena peranan individu yang melakukan respon terhadap simbol tersebut. Individu dalam kehidupan sosial selalu merespon lingkungan termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) yang kemudian memunculkan sebuah pemaknaan, makna yang merupakan hasil interpretasi individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan dari faktor-faktor yang berkaitan dengan bentuk fisik (benda) ataupun tujuan (perilaku manusia) memungkinkan adanya perubahan terhadap hasil intrepetasi barunya. Dan hal tersebut didukung pula dengan faktor bahwa individu mampu melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Proses mental tersebut dapat berwujud proses membayangkan atau merencanakan apa yang akan mereka lakukan. Individu dapat melakukan antisipasi terhadap reaksi orang lain, mencari dan memikirkan alternatif kata yang akan ia ucapkan. Menurut pandangan Mead, perilaku manusia sebagai sosial dan berbeda dengan perilaku hewan yang pada umumnya ditandai dengan stimulus dan respon. Perilaku merupakan produk dari penafsiran individu atas objek di sekitarnya.makna yang mereka berikan kepada objek berasal dari interaksi sosial dan dapat berubah selama interaksi itu berlangsung. Konsep tentang “self ” atau diri merupakan inti dari teori interaksi simbolik. Mead menganggap konsep diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain ( D. Mulyana, 2001:73 ). Diri sendiri “ the self ”, dalam pandangan ahli interaksionalisme simbolik merupakan obyek sosial dalam hubungan dengan orang lain disebuah proses interaksi. Dengan demikian, individu melihat dirinya sendiri ketika ia berinteraksi dengan orang lain. Bagi Mead, kesadaran akan “diri” berarti menjadi suatu “diri” dalam pengalaman seseorang sejauh “suatu sikap yang dimilikinya sendiri membangkitkan sikap serupa dalam upaya social . kesadaran akan konsep “diri” akan muncul ketika individu memasuki pengalaman dirinya sendiri sebagai suatu obyek.

Manajemen Makna Terkoordinasi (Coordinated Management Of Meaning)

5:04 PM, Posted by By Communicator 12, 4 Comments

Koordinasi: sebuah proses saling mengerti antara dua orang atau lebih untuk melaksanakan suatu hal. Koordinasi akan terjadi jika kita melakukan planning sebelum melaksanakan kegiatan tersebut. Dalam Konteks bab ini, diartikan sebagai ketika 2 orang berusaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan dalam percakapan mereka. Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya (James A.F. Stoner). Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik. Dalam percakapan dan melalui pesan-pesan yang kita kirim dan terima, orang saling menciptakan makna. Saat kita menciptakan dunia sosial kita, kita menggunakan berbagai aturan untuk mengonstruksi dan mengoordinasikan makna. Maksudnya, aturan-aturan membimbing komunikasi yang terjadi diantara orang-orang. CMM berfokus pada relasi antara individual dengan masyarakatnya. Melalui sebuah struktur hierarkis, orang-orang mengorganisasikan makna dari beratus-ratus pesan yang diterima dalam sehari. Asumsi-Asumsi Manajemen Makna Terkoordinasi CMM berfokus pada diri dan hubungannya dengan orang lain, serta mengkaji bagaimana seorang individu memberikan makna pada sebuah pesan. Teori ini penting karena berfokus pada hubungan antara individual dengan masyarakatnya (Philipsen, 1995). Manusia, karenanya, mampu menginterpretasikan makna. Selain itu juga terdapat beberapa asumsi: 1) Manusia hidup dalam komunikasi 2) Manusia saling menciptakan realita sosial 3) Transaksi informasi bergantung pada makna pribadi dan interpersonal Kepercayaan bahwa orang-orang saling menciptakan realitas sosial mereka dalam percakapan disebut sebagai konstruksionisme sosial (social constructionism). Cronen, Chen, dan Pearce (1988) menyatakan bahwa: “Terkadang tampaknya individu-individu berkomunikasi untuk mengekspresikan emosi mereka dan untuk merujuk pada dunia di sekeliling mereka. Akan tetapi, dari mana datangnya’ individu’, ‘emosi’, dan ‘peristiwa/objek’? semua ini dikonstruksikan dalam proses komunikasi”. Realitas Sosial (Social Reality) Merujuk pandangan seseorang bagaimana makna dan tindakan sesuai dengan interaksi interpersonalnya. Ketika ada 2 orang yang terlibat dalam percakapan, orang-orang tersebut telah memiliki banyak sekali pengalaman bercakap-cakap dimasa lalu dari realitas-realitas sosial sebelumnya. Makna Pribadi (Personal Meaning). Didefinisikan sebagai makna yang dicapai ketika seseorang berinteraksi dengan yang lain sambil membawa pengalamannya yang unik dalam interaksi. Ketika dua orang sepakat mengenai interpretasi satu sama lain mereka dikatakan telah mencapai makna interpersonal (Interpersonal Meaning). Cushman dan Whiting (1972) berpendapat bahwa makna interpersonal dapat dipahami dalam berbagai macam konteks, termasuk keluarga, kelompok kecil, dan organisasi. Mereka melihat bahwa makna interpersonal saling diciptakan oleh para partisipan. Ketiga asumsi diatas membentuk suatu latar untuk mendiskusikan Manajemen Makna Terkoordinasi, teori ini didasarkan pada konsep-konsep komunikasi, realitas sosial, dan makna. Hierarki Makna Terkoordinasi Menurut para teoritis CMM, manusia mengorganisasikan makna dengan cara yang hierarkis. Ini merupakan salah satu ciri inti dari CMM. Pola Budaya – Naskah kehidupan (autobiografi) – Hubungan (kontrak) – Episode – Tindak Tutur – Isi. Isi (content) Merupakan langkah awal dimana data mentah dikonfirmasikan menjadi makna. Bayangkan level isi sebagai pesan tanpa konteks (Pearce, Cronen, dan Conklin 1979). Tindak Tutur Pearce (1994) mendeskripsikan tindak tutur (speech acts) sebagai ‘tindakan-tindakan yang kita lakukan dengan cara berbicara…[termasuk] memuji, menghina, berjanji, mengancam, menyatakan, dan bertanya’(hal. 104). Episode Untuk menginterpretasikan Tindak Tutur, Pearce dan Cronen (1980) membahas Episode, atau rutinitas komunikasi yang memiliki awal, pertengahan, dan akhir yang jelas. Dalam sebuah interaksi, individu-individu memiliki perbedaan dalam bagaimana mereka menandai (punctuated) atau menekankan sebuah Episode. Hubungan Dimana dua orang menyadari potensi dan batasan mereka sebagai mitra dalam sebuah hubungan. Hubungan dapat dikatakan sebagai kontrak, dimana terdapat kesepakatan dan pengertian antara dua orang dalam berperilaku. Para Teoritis menggunakan istilah keterlibatan (enmeshment) untuk menggambarkan batasan dimana orang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu sistem hubungan. Naskah Kehidupan Kelompok-kelompok episode masa lalu dan masa kini disebut naskah kehidupan (Life Script) yang menciptakan suatu sistem makna yang dapat dikelola bersama dengan orang lain. Pola Budaya Disebut sebagai cultural pattern atau archetype dapat dideskripsikan sebagai ‘gambaran yang sangat luas dari susunan dunia dan hubungan seseorang dengan susunan tersebut’ (Cronen dan Pearce,1981 hal. 21). Contoh pola budaya adalah : individualism di Amerika Serikat, dan kolektivisme yang terjadi di Peru, Columbia, dan Taiwan Koordinasi Makna: Mengartikan Urutan Koordinasi ada ketika 2 orang berusaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan dalam percakapan mereka. Pengaruh Terhadap Proses Koordinasi Koordinasi dipengaruhi oleh moralitas dan budaya. Banyak teoritis CMM seperti Pearce, menjelaskan moralitas sebagai penghargaan, martabat, dan karakter. Selain moralitas, koordinasi juga dipengaruhi oleh sumberdaya yang ada pada seseorang. Sumberdaya menurut Teoritis CMM: cerita, gambar, simbol dan institusi yang digunakan orang untuk memaknai kehidupan mereka.

Fungsi Komunikasi Massa

5:43 AM, Posted by By Communicator 12, No Comment

Pentingnya media massa di masyarakat, menurut Denis McQuail, adalah di samping merupakan industri yang terus berkembang—dengan menciptakan tenaga kerja serta menghidupi industri lain—juga karena media merupakan sumber kekuatan (Mc Quail, 1989 :3). Di luar itu media merupakan forum untukmenampilkan berbagai peristiwa, menjadi wahana pengembangan kebudayaan, serta sumber dominan bagi orang untuk memperoleh ganbaran tentang realitas sosial. Ini yang membuat studi tentang komunikasi massa menjadi semakin banyak diminati. Di antara ahli komunikasi yang teorinya tentang fungsi media banyak dikutip, Harold D. Lasswell barangkali menempati tempat utama. Menurut Laswell, ada 3 (tiga) fungsi media massa, yakni (1) pengawasan lingkungan, (2) korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan, dan (3) transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Ketiga aktivitas ini biasanya ditambah dengan fungsi keempat, yakni (4) hiburan. Pengawasan, menunjukkan pengumpulan dan distribusi informasi mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan, baik di dalam maupun di luar masyarakat tertentu. Dalam banyak hal, fungsi ini berhubungan dengan “penanganan berita”. Tindakan korelasi meliputi interpretasi informasi mengenai lingkungan dan pemakaiannya untuk berperilaku dalam reaksinya terhadap peristiwa-peristiwa tadi. Aktivitas ini dikenal sebagai editorial atau propaganda. Sedang transmisi warisan sosial berfokus pada komunikasi pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma sosial dari generasi ke generasi lain atau dari anggota-anggota satu kelompok kepada pendatang baru. Kita sering menyebutnya sebagai fungsi pendidikan. Fungsi hiburan berhubungan dengan hiburan massa, yang digambarkan para kritikus kebudayaan sebagai “hiburan massa adalah disfungsional selama ia gagal menimbulkan atau menumbuhkan selerapublik sampai pada tingkatan yang mungkin dicapai oelh bentuk-bentuk hiburan yang kurang meluas seperti teater, opera, dan drama-drama klasik.” Ada satu fungsi lagi yang ditambahkan di sini, yakni fungsi mobilisasi. Menurut Denis McQuails, fungsi ini berhubungan dengan upaya “mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang agama.” Fungsi mobilisasi agaknya yang paling relevan dengan permasalahan yang mencoba menghubungkan peranan pers dengan upaya mewujudkan pemerintahan yang baik. McQuails sendiri memerinci fungsi media lebih detail lagi (McQuail, 1989:70). Menurutnya ada fungsi media bagi maasyarakat dan ada pula fungsi bagi individu. Fungsi utama media bagi masyarakat terdiri dari fungsi informasi, fungsi korelasi, fungsi kesinambungan, hiburan, dan mobilisasi. Fungsi informasi meliputi : menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia; menunjukkan hubungan kekuasaan; memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan. Sedangkan fungsi korelasi meliputi : menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi; menunjang otoritas norma-norma yang mapan; melakukan sosialisasi; mengkoordinasi beberapa kegiatan; membentuk kesepakatan; menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif. Fungsi kesinambungan terdiri dari : mengekspresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru; meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai. Fungsi Hiburan meliputi menyediakan hiburan, pengalihan perhatian, dan sarana relaksasi; meredakan ketegangan sosial. Fungsi mobilisasi adalah mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, perang, pembangunan ekonomi, pekerjaan, dan kadang kala juga dalam bidang agama. Sedangkan fungsi media bagi individu adalah : Informasi >> Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, maysrakat dan dunia. >>Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan >>Memuaskan rasa ingin tahu da minat umum >>Mengidentifikasi diri sendiri >>Belajar, pendidikan diri sendiri >>Memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan. Identitas pribadi >> Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi >> Menemukan model perilaku >> Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media) >> Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri Integrasi dan Interaksi Sosial >> Memperolah pengetahuan tentang keadaan orang lain : empati sosial >> Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki >> Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial >> Memperoleh teman selain dari manusia >> Membantu menjalankan peran sosial >> Memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungi sanak keluarga, teman, dan masyarakat. Hiburan >> Melepasakan diri atau terpisah dari permasalahan >> Bersantai >> Mengisi waktu >> Penyaluran emosi >> Membangkitkan gairah seks