Navigation


RSS : Articles / Comments


Penelitian Etnografi Komunikasi

6:22 PM, Posted by By Communicator 12, No Comment

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kehadiran dan keberartian orang-orang etnis tionghoa di tengah-tengah. masyarakat indonesia merupakan suatu kenyataan. Kehadiran ini sudah berlangsung dari sekian keturunan, sedangkan keberartiannya dapat diukur dari perlakuan masyarakat sekitar terhadap mereka. Perlakuan masyatakat sekitar ini termasuk masyarakat jawa akan sangat beragam mulai dari menyenangi mereka, bersikap acuh tak acuh, atau bahkan membencinya Masyarakat yang berasal dari etnis lain dalam perspektifnya memandang etnis tionghoa merupakan suatu sikap yang tidak menentu. Selain itu proporsi orang etnis tionghoaterhadap penduduk indonesia dilihat dari sensuspada tahun 1930 adalah berjumlah 1.233.214 yang merupakan 2 persen dari seluruh penduduk di indonesia. Bisa dikatakan bahwa semua orang tionghoa di indonesia merupakan imigran kelahiran tiongkok atau keturuann imigtan menurut garis laki-laki. Namun akibat dari perkawinan campuran dan asimilasi di beberapa daerah di indonesia akan susah dibedakan mana yang merupakan orang tionghoa dan mana yang bukan. Masyarakat tionghoa di indonesia di indonesia tumbuh dan berakar setempat dapat diklasifikasikan menurut besar-kecilnya pengatuh pribumi dalam kebudayaan campuran mereka. Suatu proses komunikasi di bagian dunia manapun, selalu mengikuti suatu alur atau kaidah tertentu, sehingga suatu masyarakat atau kelompok tersebut bisa mengatakan seseorang bisa diterima suatu komunitas atau masyarkat karena cara dia berperilaku dan berkomunikasi satu terhadao lainnya. Disini, studi yang ditekankan dalam etnografi komunikasi merupakan salah satu dari sekian studi penelitian kualitatif (paradigma interpretatif atau konstruktivis), yang mengkhususkan pada penemuan brbagai pola komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam masyarakat tutur. Etnografi komunikasi merupakan penerapan metode etnografis pada pola komunikasi sebuah kelompok. Menurut Hymes(1974), etnografi komunikasi sendiri merupakan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi. Cakupan kajian etnografi adalah misalnya hanya mengambil hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu menghubung-hubungkannya. Fokus hendaknya meneliti secara langsung terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan sebagainya. Dalam kaitan dengan landasan itu, seorang peneliti tidak dapat membentuk bahasa, atau bahkan tutur, sebagai kerangka acuan yang sempit. Peneliti harus mengambil konteks suatu komunitas (community), atau jaringan orang-orang, lalu meneliti kegiatan komunikasinya secara menyeluruh, sehingga tiap penggunaan saluran atau kode komunikasi selalu merupakan bagian dari khasanah komunitas yang diambil oleh para penutur ketika dibutuhkan. 1.2 Rumusan Masalah • Bagaimana pola interaksi seseorang terhadap keluarganya yang multi etnis Jawa-Cina? • Apa saja batasan-batasan perilaku seseorang terhadap keluarga multi etnis Jawa-Cina? • Bagaimana pola kekerabatan multi-etnis Jawa-Cina terhadap sanak keluarganya? • Apa penyebab terjadinya konflik pada pernikahan multi-etnis Jawa-Cina? Dan bagaimana menyelesaikannya? • Bagaimana prejudice etnis Cina terhadap Jawa dan sebaliknya? 1.3 Tujuan dan manfaat penelitian • Menghindari konflik yang terjadi pada pernikahan multi-etnis • Mengetahui pola interaksi keluarga multi-etnis Jawa-Cina dalam kehidupan sehari-hari • Mengetahui jalan tengah antara dua budaya yang berbeda dalam pelaksanaannya sehari-hari • Mengetahui cara menyelesaikan prejudice yang ada pada masing-masing pelaku perkawinan multi-etnis Jawa-Cina   BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan teori Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian.Semula etnografi komunikasi (etnography of communication) disebut etnografi wicara atau etnografi pertuturan (ethnograpliy of speaking). Kalau etnografi itu dipandang sebagai kajian yang memerikan suatu masyarakat atau etnik, model pemerian etnografi itu bisa diterapkan dan difokuskan kepada bahasa masyarakat atau kelompokmasyarakat tertentu. Karena sosiolinguistik itu lebih banyak mengungkapkan pemakaian bahasa, dan bukan ihwal struktur bahasa, maka etnografi tentang bahasa difokuskan kepada pemakaian bahasa dalam pertuturan atau lebih luas lagi komunikasi yang menggunakan bahasa. James P. Spradley mengemukakan bahwa etnografi merupakan pekerjaaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Adapun tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Pandangan Spradley ini berdasarkan pendapat Bronislaw Malinowski yang memandang bahwa tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Mengacu pada pemahaman itu, Spradley kemudian mengatakan bahwa etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, akan tetapi lebih jauh lagi yakni etnografi juga belajar dari masyarakat. Lebih jauh, Spradley mengungkapkan bahwa makna-makna yang bisa diamati oleh peneliti etnografi terbagi kedalam dua wilayah yakni makna yang terekspresikan dan makna disembunyikan. Makna yang terekspresikan secara langsung dapat diamati lewat bahasa, sedangkan yang tersembunyi bisa diamati melalui kata-kata secara tidak langsung dan juga melalui perilaku dari sumber yang diamati. Dalam pengertiannya, Metode Etnografi menurut Suwardi Endaswara merupakan penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Artinya, dalam penelitan ini peran peneliti hanya sebagai pencatat dan atau pengamat dari sebuah peristiwa yang berlangsung tanpa campur tangan peneliti untuk mengarahkan peristiwa tersebut. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985). Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, etnografi merupakan embrio dari antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi juga merupakan hasil catatan penjelajah eropa tatkala mencari rempah-rempah ke Indonesia. Koentjaraningrat, 1989:1 : “Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adapt istiastiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut”. 2.2 Langkah-langkah umum dalam siklus penelitian etnografi terdiri dari : 1) Memilih proyek etnografi 2) Membuat pertanyaan etnografis 3) Mengumpulkan data etnografis 4) Membuat catatan etnografis 5) Menganalisis data etnografis 6) Menulis laporan etnografis 7) Menetapkan situasi sosial 2.3 Ruang lingkup dan fokus kajian Etnografi Komunikasi Menurut Hymes, ruang lingkup kajian etnografi komunikasi sebagai berikut: 1. Pola dan fungsi komunikasi 2. Hakikat dan definisi masyarakat tutur (speech comunity) 3. Cara-cara berkomunikasi 4. Komponen-komponen kompetensi komunikatif 5. Hubungan bahasa dengan pandangan dunia dan organisasi sosial 6. Semesta dan ketidaksamaan linguistik dan sosial Pada etnografi komunikasi, yang menjadi fokus perhatian adalah perilaku komunikasi dalam tema kebudayaan tertentu, jadi bukan keseluruhan perilaku seperti dalam etnografi. Adapun yang dimaksud dengan perilaku komunikasi menurut ilmu komunikasi adalah tindakan atau kegiatan seseorang, kelompok atau khalayak, ketika terlibat dalam proses komunikasi. 2.4 Signifikansi Etnografi Komunikasi Etnografi komunikasi memfokuskan kajiannya pada perilaku-perilaku komunikasi yang melibatkan bahasa dan budaya. Sehingga etnografi komunikasi tidak hanya akan menyorot fonologi dan gramatika bahasa, melainkan struktur sosial yang mempengaruhi bahasa, dan kebudayaan dalam kosakata bahasa. Etnografi komunikasi menggabungkan antropologi, linguistik, komunikasi, dan sosiologi dalam suatu frame yang sama, sehingga deskripsi etnografi komunikasi memberikan sumbangan pemahaman bagi ilmu lain. Singkatnya, etnografi komunikasi melihat perilaku komunikasi dalam konteks sosiokultural. Mencoba menemukan hubungan antara bahasa, komunikasi, dan konteks kebudayaan dimana peristiwa komunikasi itu berlangsung. Semua itu menjadikan etnografi komunikasi sebagai multi studi dalam ilmu sosial.   2.5 Keluarga Definisi Keluarga: keluarga adalah kelompok sosial utama, sebuah komunitas kecil, di masyarakat mana pun, biasanya terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, atau dua individu yang ingin berbagi hidup mereka bersama-sama dalam jangka panjang melakukan hubungan satu sama lain , keturunan membesarkan dan biasanya berada di tempat tinggal yang sama. Family is the main building block of a community; family structure and upbringing determines the social character and personality of any given society. Keluarga adalah blok bangunan utama masyarakat; struktur keluarga dan pendidikan menentukan karakter sosial dan kepribadian dari setiap masyarakat tertentu. - Family is where we all learn: love, caring, compassion, ethics, honesty, fairness, common sense, reason, peaceful conflict resolution and respect for ourselves and others, which are the vital fundamental skills, and family values, necessary to live an honorable and prospers life in harmony, in the world community. - Keluarga adalah tempat kita semua belajar: cinta, kepedulian, kasih sayang, etika, kejujuran, keadilan, akal sehat, alasan, resolusi konflik yang damai dan menghormati diri sendiri dan orang lain, yang merupakan keterampilan dasar yang vital, dan nilai-nilai keluarga, diperlukan untuk menjalani terhormat dan hidup berhasil dalam harmoni, di masyarakat dunia. Definisi Nilai: Nilai adalah prinsip, standar, atau kualitas dianggap bermanfaat atau diperlukan untuk mempertahankan seperangkat standar adat, seperti yang saya sebutkan di atas. Definisi Family Values: Untuk memiliki rasa Family Values adalah untuk memiliki pikiran yang baik, niat baik dan perbuatan baik, untuk mengasihi serta peduli kepada orang-orang yang dekat dengan kita dan merupakan bagian dari kelompok utama sosial kita, masyarakat kita, seperti anak-anak, orang tua, anggota keluarga lain dan teman-teman. And to treat others with the same set of values, the same way we wish to be treated. Dan untuk memperlakukan orang lain dengan kumpulan nilai yang sama, dengan cara yang sama kita ingin diperlakukan. BAB 3 METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif studi etnografi komunikasi, karena metode ini dapat menggambarkan, menjelaskan, dan membangun hubungan dari data-data yang ditemukan secara mendalam pada satu objek. Sesuai dengan dasar pemikiran etnografi komunikasi, tidak hanya perilaku komunikasi saja yang menjadi titik berat dari penelitian, tingkah laku sehari-hari juga menjadi kajian dalam penelitian ini, etnis Cina memiliki kebudayaan sendiri, dan begitu juga etnis Jawa, terkadang salah satu hal dalam kebudayaan kedua etnis ini bertentangan, maka dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam kepada responden.   BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Studi keluarga multi etnis jawa - cina Kami memutuskan untuk meneliti seorang wanita multi etnis, yaitu etnis cina-jawa. Yaitu Astrid Widhiasih, gadis yang kami teliti merupakan seseorang yang mempunyai ibu dari etnis jawa tulen, ayahnya berasal dari cina peranakan, kakek dari ayah Astrid termasuk etnis Cina Totok. Perilaku komunikasi setiap hari menggunakan bahasa jawa, dan terkadang bahasa Indonesia, karena ayahnya bisa bahasa jawa, dan ibunya juga berbahasa jawa. Mereka tinggal di Jember, Jawa Timur. Sejak SMA, Astrid bersekolah di Malang, “perilaku komunikasi kami tidak ada yang spesial, biasa saja” jawabnya ketika diberi pertanyaan : “bagaimana perilaku komunikasi keluarga kalian?”, mungkin pertanyaan ini terlalu umum, sehingga ia hanya menjawab demikian, tetapi setelah ditanya lebih dalam, barulah terbuka. Dimulai dari pertanyaan : “agama orang tua anda beragama apa?”,”bagaimana menyikapi perbedaan budaya seperti idul fitri dan imlek?”. Ternyata kedua orang tua Astrid beragama islam, namun daya toleransi mereka lebih tinggi dari pada muslim pada umumnya, contohnya ketika hari raya Imlek, mereka tidak merayakan dengan pergi ke kuil, tapi tetap mengikuti budaya pada hari imlek, yaitu “bagi bagi angpao”, mungkin hal ini dianggap sedekah pada even spesial seperti ini. Adat istiadat merekapun lebih hati-hati daripada orang jawa, mereka sangat menghindari mandi ketika matahari sudah terbenam, adat ini juga ada di Jawa, namun sepertinya mereka (keluarga astrid) lebih mengindahkan daripada orang jawa pada umumnya, namun ketika ditanya alasannya, Astrid menjawab bahwa hal itu Pamali. Tidak ada alasan yang logis dari mitos ini, tapi yang jelas, mereka mempercayai sesuatu dibelakang adat mereka ini. Ketika diberikan pertanyaan “Mengapa bisa ayahmu dari etnis Cina menikah dengan Ibumu yang domisili di Jawa, (Jember)?”. Astrid pun memberikan sejarah bertemunya kedua orang tuanya, diawali dari perkenalan di Bus yang menuju Jember, ayahnya sedang mengecek usaha yang ada di Jember, -sebagaimana kita ketahui, di Indonesia orang Cina lebih banyak menjadi wiraswasta daripada bekerja dipabrik,- dan kebetulan ibunya duduk di sebelah ayahnya. Ayahnya bertanya: “mau kemana?”, “ke Jember”, “Oh, sama, dimana rumahnya?” ibunya pun menjawab nama kecamatan saja, tetapi ayahnya terus bertanya detail alamat ibunya, ibupun menjawab dengan detail tanpa perasaan apa-apa, ia hanya anggap ini pertemuan biasa tanpa ada keseriusan. Namun selang satu hari dari pertemuan itu, Ibu dikejutkan oleh kedatangan ayah, tidak disangka-sangka si ayah benar-benar niat untuk menemuinya, yang lebih mengejutkan lagi, setelah bertanya tentang status, si Ayah langsung mengajak Ibunya menikah, dan orang tuapun setuju, menikahlah mereka berdua tidak lama setelah itu, dan bertempat tinggal di Jember. Selama wawancara, Astrid tidak menyampaikan satupun konflik yang disebabkan oleh perbedaan etnis, seolah-olah keluarganya damai, tanpa pertengkaran. Tetapi memang benar, tidak ada perselisihan yang menyebabkan masalah hingga serius, mungkin karena kesamaan keyakinan mereka, Muslim, dan kesamaan adat jawa mereka, serta tentunya, saling toleransi antara satu dan lain dalam perbedaan. Kedua orang tua Astrid memperlakukannya dengan berdasar atas kebudayaan dasar mereka masing-masing, namun selama ini, perlakuan tersebut tidak ada yang menimbulkan konflik yang signifikan, contohnya, pada hari Imlek, ayah Astrid menjalankan budaya "bagi-bagi angpao", tetapi karena ayahnya beragama muslim, ia tidak pergi ke kelenteng untuk sembahyang. Dan pada hari raya Islam, idul fitri, Ibu Astrid mengajaknya bersilaturrahmi ke sanak saudara dan kerabat dekat untuk saling bercengkrama dan tegur sapa, Ayah pun mengiringi mereka selama silaturrahmi. Terdapat beberapa unsur struktur kekerabatan kaum cina peranakan, seperti Astrid, yaitu mulai meninggalkan ciri-ciri patrilokal, patrilineal, dan patriarkal, yang sebenarnya merupakan dasar sistem tradisional Hokkian yang pada umumnya masih merupakan ciri khas yang berlaku dikalangan kaum Hokkian dewasa ini. 4.2 Perkawinan etnis jawa-cina Menghadapi persoalan perkawinan multietnis, dalam konteks etnografi komunikasi, stereotip dapat mempengaruhi penilaian keluarga besar terhadap seseorang yang akan dijadikan pendamping hidup. Begitu kuatnya hubungan kekeluargaan dalam etnis Cina, sehingga pendapat keluarga selalu dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Diperlukan komitmen luar biasa oleh pasangan perkawinan multi etnis, sehingga segala bentuk kesalahpahaman dapat lebih mudah teratasi. Termasuk ketika masing-masing pihak melakukan penyesuaian agar perkawinan dapat terjadi dan mendapat lampu hijau dari keluarga besar. Dari upaya ini kemudian dapat ditemukan kesamaan dari etnis Jawa dan etnis Cina. Persoalan kedua adalah latar belakang personal atau individu pelaku perkawinan multi etnis. Mayoritas pasangan yang memutuskan melakukan perkawinan multi etnis harus memiliki pola pikir terbuka terhadap budaya yang dibawa oleh pasangannya, termasuk kepercayaan, nilai dan norma. Jika kedua pihak tidak memiliki pola pikir terbuka, akan terjadi pemaksaan kehendak untuk mempraktikkan kepercayaan, nilai dan norma yang dianut oleh pasangannya, sehingga kemungkinan langgengnya sebuah perkawinan ibarat jauh panggangan dari api. Pada akhirnya nilai sosial dan nilai budaya keluarga perkawinan multi etnis akan sangat tampak ketika masuk dalam konteks penyelesaian persoalan dan konflik. Setiap pasangan berusaha mengambil keputusan dalam pemecahan masalah tidak berlandaskan keputusan emosional pribadi berlatar budaya, melainkan keputusan rasional yang dapat digunakan sebagai jalan keluar. Pada keluarga responden yang kami teliti, diketahui bahwa anak perempuan juga mendapat warisan seperti anak laki-laki, sedangkan khusus dalam hal warisan harta kekayaan, yang berupa barang-barang tidak bergerak, orang-orang cina peranakan cenderung untuk tinggal ditempat kediaman sesudah menikah. Hubungan sosial dengan kerabat ibu, pada umumnya sering berkomunikasi dan seakrab hubungan dengan kerabat dari ayah. 4.3 Prejudice antara etnis Jawa-Cina Prejudice yang ada pada Astrid sebagai Cina peranakan yang memiliki keturunan Cina dan Jawa sering terungkap ketika dia berinteraksi dengan sanak keluarganya yang etnis Jawa, sebagian besar etnis Jawa memiliki perasaan rendah diri, hal ini dikarenakan selama berabad-abad orang pribumi (Jawa) tidak bisa lebih unggul dibanding orang-orang Tionghoa dimasa penjajahan, baik dalam status hukum maupun kekuatan ekonominya, selain itu, hampir setiap kontak antar dua bangsa tersebut mencerminkan bahwa kedudukan orang Tionghoa selalu lebih tinggi daripada orang Indonesia asli, dalam hubungan itu, kesombongan orang Tionghoa karena sadar akan keadaan.   BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN • Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi merupakan hasil catatan penjelajah eropa Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adat istitiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut. Jadi layaknya seperti penelitian yang lain, variabel dari penelitian ini lebih kepada kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat. • Penelitian etnografi juga merupakan kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian. • Dalam perkawinan etnis Jawa-Cina, dibutuhkan toleransi dan pemahaman atas kedua kebudayaan yang berbeda, selama ini dalam perkawinan etnis Jawa-Cina tidak terjadi konflik yang begitu signifikan, selama mereka memiliki keyakinan (agama) yang sama. • Prejudice yang tidak terbukti keabsahannya juga harus dihindari, jika memang sulit untuk tidak mempercayainya, maka harus diyakinkan betul kebenarannya, jika tidak, konflik akan terjadi. • Pasangan perkawinan multi-etnis Jawa-Cina harus mendasarkan rasional sebagai jalan keluar mereka ketika terjadi konflik karena perbedaan budaya, memecahkan masalah dengan meyakinkan pihak lain tentang kebenaran budayanya tidaklah banyak membantu dalam meredam konflik, namun usaha untuk memahami budaya pihak lainlah yang sangat membantu dalam mencari jalan tengah perbedaan budaya kedua etnis.   DAFTAR PUSTAKA Kuswarno, Engkus. 2008. Metode penelitian komunikasi, etnografi komunikasi suatu pengantar dan contoh penelitiannya.Bandung ;Widya padjajaran. Mulyana, deddy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. remaja rosdakarya. Sutyadinata, Leo. 1998. Etnis tionghoa dan pembangunan bangsa. Tan, melly. 1981. Golongan etnis tionghoa di indonesia. Jakarta : PT. Gramedia.  

No Comment